Langsung ke konten utama

LEBIH DARI TAJ MAHAL




LEBIH DARI TAJ MAHAL

Kelabu menyapu seluruh kaki langit barat
Kurang lebih mampu melukiskan setiap detik yang kurasakan
Aroma tanah dan rumput menjelajah isi otak lalu menjelma ke pikiran
Merupakan terapi tak tertandingi saat itu
Semacam mantra berkali-kali kukembangkan dada menjelang tersirep

Semua berawal oleh sebuah mulut
Adalah lukisan keadaanmu yang memabukkan lahir dan batinku
Di sela-sela kesadarankku kusampaikan doa khusus
Berinstrumenkan denyut jantung dan darah melebihi biasanya
Bersama menjumpai kepastian melalui lorong-lorong rumah sakit.

Seketika perasaan mulai mekar setelah lukisan keadaanmu lebih cerah
Puji syukur bagi Gusti Alloh yang telah menyayangi umat
Ini...mapu menandingi pembuktian Kaisar Mughal Shah Jahan dengan Taj Mahal-nya
Bagiku...melebihi batas kemampuanku merupakan pembuktian adikarya
Mampu menciptakan komunikasi dengan pencipta.

Bongkahan kelabu pada senja yang menua
Tampak sinar matamu bagai pisau dengan alis penyayat
Perlahan bibirku melengkung ke bawah mewakili perasaanku saat itu

#KerlipKaca
#Krentheg
Mgl, 18 Jan 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebur

Perkataan itu adalah resah Doa tak ikhlas terucap Beberapa temaliku lantas terurai Selebihnya aku berpura-pura sabar Berpura-pura tidak terjadi apa-apa Lalu apa yang mampu mengalpakan hampa? Aku pikir prologku semacam doa Beberapa yang kutulis secara tak sadar baru tersadar Berhentikah aku? Semarang, 9 Mei 2018

Bidadari: Sesungguhnya...Kesungguhanku Sungguh-Sungguh, bunda

Bilamana kata-kata "cuman main-main" masih terngiang tentu langkah kongkrit menjadi jawaban. Saat purnama datang aku benar-benar bergetar. Ada juga rasa malu. Tahukah engkau bahwa aku belum pernah seperti ini. Ada bahagia saat kilauan itu berseri-seri. --Esode ======= Malam itu benar-benar dingin. Riuh suara jangkrik dan kodok tak ubahnya orkestra. Berkali-kali angin menampar daun telingaku, wuf. Air di petak sawah menari-nari. Pantulan sinar bulan purnama seperti permata penghias penari. ` Di petak sebelahnya ada barisan tanaman padi. Masih hijau segar. Menari mengikuti angin. Suara angin seperti gesekan biola. Di tengah barisan itu terdapat sinar. Lebih bersinar dari berlian. Lebih teduh dari lampu petromak. Mengalahkan sinar bulan. Kiranya aku akan meninggalkan itu? Jika iya, mungkin aku telah kerasukan setan atau kenalaranku patut diragukan. ` Aku perlahan mendekati sinar itu. Sangat pelan, hampir tidak bergerak secara kasat mata. Asal kau tahu, aku melangkah pasti. ...

Aku Tak Tahu

Sampai hari ini aku tidak tahu dengan yang aku rasakan. Atau aku tidak mengerti sebenarnya dengan keadaan yang sekarang. Ah, aku benar-benar bingung. Jika engkau #KerlipKaca mulai menjauh atau tidak ingin mengenalkulagi, maka aku akan mengejarmu dengan langkah perlahan. Aku tidak percaya dengan keadaanku saat ini. Entah kenapa perasaan ini tidak pernah surut. Meskipun ada beberapa wanita yang mendekatiku. Jika engkau adalah wanita yang aku harapkan, atau minimal engkau jodoh yang aku harapkan, maka kenapa aku tidak melihat atau merasakan tanda-tanda itu? Ah, dunia memang penuh dengan misteri. Aku merasa tidak ingin meninggalkanmu, meskipun cukup berdaya untuk melakukannya. Rasanya aku ingin bercerita sejak awal. Pada hari itu, kita sering bertemu ketika rapat pengurus sebuah organisasi profesi. Ketika pertama kali bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda, indah. Melalui matamu yang teduh oleh coretan pinsil hitam--atau sering disebut celak. Sejak saat itu aku sering ...