Langsung ke konten utama

Awal Tahun



Banyak hal yang aku alami selama tahun kemarin. Tahun berikutnya lah kamu bisa menilai kehiduannya tahun ini. Dan aku menilai tahun kemarin banyak hal luar biasa yang aku alami. Dan aku meyakini awal tahunku yang pahit akan banyak menempa diriku untuk menjadi lebih baik ke depannya. Sepenuhnya aku menyadari itu, tapi aku bukan berarti mempu menahan itu tanpa ada perasaan sesak, berat atau sakit.

Awal tahun 2021...

Aku sedang tidak merasa baik-baik aja. Kontrak kiosku sudah selesai sudah, sementara aku belum mendapatkan kembali. Satu hal yang masih terulang seperti tahun kemarin, berpikir keras untuk bertahan hidup. Tapi, di sisi lain ada hal yang lebih berat dari itu, yaitu menerima perubahan dari orang yang aku sayangi. Banyak hal hilang--yang mungin bagi kalian itu hal sepele---adalah sesuatu perlakuan yang sederhana. Itu menghilang sejak beberapa hari lalu. Aku biasanya menangis sambil menanyakan permasalahan apa yang sedang dialami. tapi, kali ini aku takut....

Bagaimana jika itu terjadi sebenarnya karena kesengajaan, maksudku memang ada niat itu. Ya meskipun aku kadang berpikir mungkin itu dilakukan untuk sebuah kebaikan yang bisa jadi itu bukan versiku. 

Aku merasa ini awal tahun yang buruk. T_T

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebur

Perkataan itu adalah resah Doa tak ikhlas terucap Beberapa temaliku lantas terurai Selebihnya aku berpura-pura sabar Berpura-pura tidak terjadi apa-apa Lalu apa yang mampu mengalpakan hampa? Aku pikir prologku semacam doa Beberapa yang kutulis secara tak sadar baru tersadar Berhentikah aku? Semarang, 9 Mei 2018

Bidadari: Sesungguhnya...Kesungguhanku Sungguh-Sungguh, bunda

Bilamana kata-kata "cuman main-main" masih terngiang tentu langkah kongkrit menjadi jawaban. Saat purnama datang aku benar-benar bergetar. Ada juga rasa malu. Tahukah engkau bahwa aku belum pernah seperti ini. Ada bahagia saat kilauan itu berseri-seri. --Esode ======= Malam itu benar-benar dingin. Riuh suara jangkrik dan kodok tak ubahnya orkestra. Berkali-kali angin menampar daun telingaku, wuf. Air di petak sawah menari-nari. Pantulan sinar bulan purnama seperti permata penghias penari. ` Di petak sebelahnya ada barisan tanaman padi. Masih hijau segar. Menari mengikuti angin. Suara angin seperti gesekan biola. Di tengah barisan itu terdapat sinar. Lebih bersinar dari berlian. Lebih teduh dari lampu petromak. Mengalahkan sinar bulan. Kiranya aku akan meninggalkan itu? Jika iya, mungkin aku telah kerasukan setan atau kenalaranku patut diragukan. ` Aku perlahan mendekati sinar itu. Sangat pelan, hampir tidak bergerak secara kasat mata. Asal kau tahu, aku melangkah pasti. ...

Aku Tak Tahu

Sampai hari ini aku tidak tahu dengan yang aku rasakan. Atau aku tidak mengerti sebenarnya dengan keadaan yang sekarang. Ah, aku benar-benar bingung. Jika engkau #KerlipKaca mulai menjauh atau tidak ingin mengenalkulagi, maka aku akan mengejarmu dengan langkah perlahan. Aku tidak percaya dengan keadaanku saat ini. Entah kenapa perasaan ini tidak pernah surut. Meskipun ada beberapa wanita yang mendekatiku. Jika engkau adalah wanita yang aku harapkan, atau minimal engkau jodoh yang aku harapkan, maka kenapa aku tidak melihat atau merasakan tanda-tanda itu? Ah, dunia memang penuh dengan misteri. Aku merasa tidak ingin meninggalkanmu, meskipun cukup berdaya untuk melakukannya. Rasanya aku ingin bercerita sejak awal. Pada hari itu, kita sering bertemu ketika rapat pengurus sebuah organisasi profesi. Ketika pertama kali bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda, indah. Melalui matamu yang teduh oleh coretan pinsil hitam--atau sering disebut celak. Sejak saat itu aku sering ...